PERAN UNIVERSITAS DALAM MEMPERSIAPKAN AKUNTAN YANG MEMILIKI JIWA SELF EFFICIACY DALAM MENGHADAPI ERA DISRUPSI



Already published on: https://acehsatu.com/peran-universitas-dalam-mempersiapkan-akuntan-berjiwa-self-efficiacy-menghadapi-era-disrupsi/

Akuntan adalah salah satu unsur penting dalam pengambilan keputusan di dunia ekonomi, terutama dalam menghasilkan laporan keuangan yang baik, akurat, dan cepat. Akuntan juga berperan penting dalam mengendalikan aplikasi, perangkat lunak, hingga pengawasan dalam proses kerja. Perkembangan teknologi yang kian memesat akan berdampak pula pada kinerja akuntan, sehingga mau tak mau akuntan harus mengambil andil dalam perkembangan teknologi itu sendiri. Agar tetap tumbuh dengan aman dan optimal, tentunya akuntan harus menetapkan prioritas dalam mengantisipasi berbagai resiko, ancaman, tantangan serta peluang teknologi seiring dengan kemajuan ICT, dan berbagai hal tersebut harus dapat diidentifikasi serta dipahami dengan baik oleh kalangan profesional akuntan di era teknologi global. Tentunya di era teknologi global ini akan muncul berbagai perubahan terduga dan tak terduga yang mengharuskan akuntan untuk beradaptasi dalam menanggapi perubahan ini. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi para akuntan dimana menurut Xero, 57 persen perusahaan menegah kebawaah berkeinginan untuk tidak memakai akuntan lagi dimasa yang akan datang. Dengan demikian, para akuntan harus lebih peka terhadap teknologi yang terus berkembang dan harus menjadi creative accountant (Majalah IAI : 2017), sehingga akuntan dapat melihat peluang-peluang baru dan tidak akan tergerus oleh teknologi.
Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi hari ini telah membawa perubahan besar dalam dunia bisnis dan perekonomian global. Dunia kini menjadi begitu terkoneksi, dan kemajuan ICT telah membawa perubahan baru dalam dunia bisnis. Dalam rangka menjaga proses bisnis dan ekonomi agar tetap pada jalurnya, akuntan profesional harus memiliki keterampilan dan pengetahuan yang tepat dalam memanfaatkan dampak dari fenomena disrupsi ini. Hal ini nantinya akan mempromosikan inovasi, kreativitas, dan penciptaan nilai di dunia bisnis. Perkembangan teknologi merupakan hal yang tidak dapat dibendung oleh manusia. Akibat teknologi, globalisasi hanya dipandang dengan pertukaran barang antar negara, sekarang globalisasi sudah dipandang juga pertukaran barang tidak berwujud seperti layanan jasa, transfer uang maupun jasa akuntansi (Majalah IAI ; 2017). Dengan demikian, layanan sekarang tdak memiliki batas daerah, semua orang dapat menjangkaunya. Sehingga, respon yang bisa ditawarkan ekonomi hanyalah berinovasi atau binasa. Oleh karenanya, akuntan profesional harus menganggapi kemajuan teknologi, borderless economy, dan arus lalu lintas para professional dalam meningkatkan jangkauan aliran modal, arus informasi, dan aliran sumber daya lainnya yang mempengaruhi bisnis dan profesi akuntansi. Akuntan profesional harus menemukan relevansi dan terus mengikuti perubahan tersebut, sekaligus merangkul perkembangan itu agar bisa terus berinovasi dan memanfaatkan tren digital untuk kepentingan profesi. Sehingga bisa dikatakan bahwa peran dari akuntan sendiri dapat membawa dampak yang besar dalam perkembangan teknologi, apalagi dunia zaman kini telah menyambut fenomena disrupsi sebagai perubahan dari perkembangan zaman.
Tetapi, apakah universitas telah efektif dalam mendidik calon akuntan yang mampu bersaing di era digital disruptif ini?
Era disrupsi yang tengah diperbincangkan saat ini memiliki dampak yang besar terhadap para pelaku yang terlibat dalam dunia digital. Fenomena dari disrupsi ini sendiri didasari dari aktivitas digitalisasi yang diakibatkan oleh evolusi teknologi. Ekonomi sebagai salah satu pilar penting negara ini tentunya akan terkena imbas dari fenomena disrupsi, seperti para pelaku yang terlibat dalam ekonomi digital akan menjadi pilar dalam perkembangan zona ini. Akuntan sebagai pelaku dalam ekonomi digital tentunya memiliki peranan yang sangat penting, terutama dalam mengembangkan daya analisanya seirama dengan perkembangan digital, namun tetap memiliki dampak yang baik dan positif terhadap pasar. Hal ini nantinya akan memberikan dampak yang begitu luas, bukan hanya bagi para  pelaku ekonomi, namun juga masyarakat yang berkeinginan untuk memulai kegiatannya di dunia ekonomi.
Menurut prediksi dari Mckinsey Global Institute, Indonesia akan memiliki bonus demografi pada tahun 2030, dimana jumlah penduduk dengan usia produktif dapat mencapai dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk usia tua ataupun bayi. Hal tersebut sangat berbanding terbalik dengan negara-negara maju yang ada di dunia. Para pengamat pendidikan seperti Muhammad Nur Rizal mengatakan bahwa bonus demografi sangat berbahaya, karena hal tersebut dapat menjadi bumerang jika kita tidak dapat mempersiapkan diri dalam menghadapi hal tersebut. Oleh karena itu, bangsa ini membutuhkan generasi yang inovatif, memiliki self efficacy diri, memiliki ilmu pengetahuan, serta paham betul dengan literasi teknologi yang marak terjadi. Masih banyak masyarakat bangsa ini yang salah dalam menghadapi fenomena dari era disrupsi. Itulah mengapa, dibutuhkannya lembaga penyedia ilmu yang dapat mengambil andil dalam merubah paradigma masyarakat agar mereka dapat menghadapi era disrupsi dengan baik. Diharapkan sistem pendidikan di Indonesia seperti universitas dapat membangun suatu sistem pendidikan yang adaptif terhadap perubahan globalisasi dan revolusi dunia digital. Universitas sebagai lembaga yang memberikan pendidikan dan lisensi pengalaman terpercaya harus selalu siap dengan berbagai fenomena teknologi yang terus berkembang. Oleh karena itu, era disrupsi yang merambat dalam berbagai sektor pengatur bangsa sudah seharusnya di perkenalkan cara kerjanya di ranah universitas. Melalui pembelajaran khusus seperti penambahan mata kuliah tertentu di dunia ekonomi digital bagi akuntan, kelas kusus seperti seminar dsb, akan sangat mempengaruhi jejak mahasiswa dalam mempersiapkan diri untuk terjun langsung dalam dunia kerja yang dipengaruhi oleh perkembangan era disrupsi yang terus melesat. Hal ini menjadi tantangan khusus bagi universitas dalam memulai perannya sebagai pilar yang memperkuat ketahanan bangsa, sehingga sangat diharapkan agar universitas dapat mempersiapkan dengan baik segala upaya dalam menumbuh kembangkan pemikiran dan pengalaman mahasiswa yang siap dalam menghadapi era disrupsi serta berbagai fenomena perkembangan zaman yang lain.
Profesi akuntan sebagai pelaku dalam ekonomi digital merupakan salah satu profesi yang dibutuhkan dalam menghadapi fenomena disrupsi. Dalam memulai langkahnya, universitas harus mempersiapkan berbagai aspek yang diperlukan seperti kelas, pemateri, dan kelas pembentukan karakter seperti pelatihan, dsb. Maksud dari pembentukan karakter disini yaitu pembentukan jiwa self efficacy dalam diri akuntan agar mereka mampu menghasilkan laporan keuangan yang jauh lebih terpercaya dan akurat. Self efficacy sendiri berarti keyakinan seorang individu yang memiliki persepsi bahwa dia mampu dalam menghadapi segala tantangan yang akan dia hadapi. Self efficacy dapat ditingkatkan secara natural dengan adanya pengalaman keunggulan yang pernah dialami oleh Individu. Pengalaman keberhasilan/keunggulan akan menjadi suatu motivasi karena mereka memiliki pengalaman bagaimana mereka dapat menguasai lingkungan. Wilson (1984) mengungkapkan “by atributing success experience to themselves, these client can learn to enhance their self efficacy expectation and positive motivation”. Hal tersebut dapat direalisasikan dengan adanya ajang kompetensi tahunan yang dilakukan oleh universitas berupa kompetensi khuusnya di bidang akuntasi, seperti lomba menganalisis laporan keuangan. Hal tersebut dapat meningkatkan kapasitas dan abilitas mahasiswa dalam menghadapi era disrupsi dikarenakan oleh tantangan yang nantinya harus dihadapi akuntan sebagai pelaku ekonomi digital. Apalagi pengembangan daya analisa bernuansa digital harusnya dibarengi dengan self efficacy yang kuat, Itulah mengapa perkembangan ekonomi membutuhkan para pelaku ekonomi seperti akuntan dengan jiwa self efficacy, yang nantinya akan memberikan dampak yang luas bagi sektor perekonomian.
Namun jika kita menimbang tentang potensi dari universitas sendiri dalam mempersiapkan akuntan yang kompeten, kita juga harus membahas lebih lanjut tentang potensi dan kemauan pemuda dalam menghadapi fenomena ini. Berbagai aktivitas pemuda yang cenderung berorientasi dalam mengembangkan potensi pribadi serta lebih cenderung dalam mencari kepuasan pribadi telah mengikis kesempatan universitas dalam mempersiapkan akuntan yang memiliki jiwa efficacy dalam menghadapi era disrupsi. Universitas harus merubah pola kebiasaan mahasiswa melalui berbagai kegiatan-kegiatan positif yang dapat mengembangkan kemampuan mahasiswa, selain hanya sebatas mengembangkan kemampuan teori saja. Hal ini bisa dimulai dengan pembukaan kelas spesial yang mengharuskan mahasiswa, seperti yang berasal dari jurusan akuntansi untuk mengikuti kelas tersebut. Dalam pembelajarannya, akan ada kelas pembentukan karakter yang khusus diorientasikan kepada pembentukan jiwa self efficacy bagi mahasiswa seperti kegiatan yang dapat membangkitkan motivasi mahasiswa. Hal penting yang harus dihasilkan disini yaitu sebuah pengalaman keberhasilan secara nyata yang nantinya dapat meningkatkan self efficacy dalam diri mahasiswa. Setelah itu, akan lebih mudah bagi universitas dalam menyusupkan berbagai pengetahuan yang mengharuskan mereka mengerti tentang pola ekonomi digital yang tengah memarak. Era disrupsi tidak hanya didefinisikan sebagai perubahan digitalisasi, namun juga sebagai era yang akan mengimbaskan pengaruh teknologi dalam berbagai aspek kehidupan bangsa. Jika semakin berkembangnya teknologi akan membuat mahasiswa meningkatkan jiwa individualnya, maka teknologi ini sendiri bukannya sebuah inovasi, melainkan sebuah awal fenomena kehancuran baru bagi negara ini. Sehingga pola pikir mahasiswa terkait dengan teknologi ini haruslah dibenahi, mengingat perkembangan dari era disrupsi yang tidak bisa di kontrol oleh pelaku ekonomi.
Dalam memulai kelas khusus bagi para mahasiswa berlatarbelakang akuntansi, tentunya akan ada hal-hal tertentu yang harus dipertimbangkan oleh universitas dalam menerapkan sistem pembelajarannya. Selain melihat peluang yang ada di era disrupsi ini, tentunya universitas juga harus memperkenalkan berbagai tantangan, ancaman, serta resiko yang akan dihadapi akuntan dalam menghadapi fenomena dari era disrupsi ini. Selain peralihan dari berbagai sektor akuntansi seperti peralihan dari penggunaan paperwork menjadi software, analisa data yang terdigitalisasi yang menjadi tantangan baru bagi akuntan, dsb. mahasiswa juga diharapkan dapat diperdalam dengan pemahaman tentang keamanan data akuntansi yang tersimpan dan terpublikasi secara digital. Tentunya akuntansi berbasis komputer ini akan melahirkan berbagai ajang kecurangan yang dapat memanipulasi berjuta kesalahan yang nantinya akan berdampak pada sektor perekonomian bangsa melalui berbagai pendapatan bangsa yang dikuras secara tidak wajar oleh kalangan-kalangan tertentu. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi universitas dalam memberikan ilmu yang dapat meminimalisir serta mendalami tentang keamanan data akuntansi. Dan disinilah juga peran dari universitas dalam menanamkan jiwa self efficacy dan rasa moralitas agar nantinya akan terlahir sarjana-sarjana yang bukan hanya berkompeten, namum memiliki rasa moralitas yang tinggi, sehingga hal-hal negatif yang biasa terjadi akan terminimalisir. Masih banyak bisnis saat ini yang belum beralih ke sistem digital karena takut akan kebocoran informasi finansial perusahaan mereka. Sehingga diharapkan melalui pembelajaran yang ditanamkan kepada mahasiswa dapat meningkatkan intensitas perhatian mahasiswa dalam menghadapi era disrupsi, dan juga nantinya pembelajaran ini akan membantu akuntan dan penerus akuntan agar dapat menciptakan sistem yang menjamin keamanan dari data akuntansi yang terdigitalisasi. Seiring dengan pembelajaran tentunya akan melahirkan ide-ide inovatif yang terlahir dari pembelajaran menggunakan sistem komputerisasi, sehingga penerapan kelas khusus bagi akuntan ini akan sangat bermanfaat.
Seiring dengan perkembangan dari era disrupsi ini, akan ada hal-hal baru yang akan menjadi tren khusus yang nantinya akan mempengaruhi masa depan akuntansi. Hal ini tentunya terjadi karena beberapa layanan akuntansi sudah terkena percikan disrupsi, seperti layanan akuntansi transaksional dasar yang sebagian besar sudah diotomatisasi sehingga tidak membutuhkan lagi sentuhan manual. Dengan adanya otomatisasi ini, para akuntan profesional akan fokus memberikan saran dan wawasan. Tren khusus yang mempengaruhi masa depan akuntansi ini diantaranya Big Data (Business Intelligence analytics) dan IoT (Internet of Things), Mobile Computing, Connection Convergence, The Future is now, dll. Berbagai tren ini bisa menjadi dasar bagi universitas dalam menerapkan kurikulum-kurikulum tertentu dalam pembelajaran yang nanti akan diperkenalkan dan diimplementasikan oleh mahasiswa. Begitu banyak landasan bagi universitas dalam memperkuat materi yang ingin ditanamkan dalam benak mahasiswa, sehingga hal ini bisa menjadi tool tersendiri dalam membentuk seorang akuntan yang siap dalam menghadapi era disrupsi.
Untuk menghasilkan akuntan yang bermutu di masa depan, tentunya akan ada aspek-aspek khusus yang diharapkan akan diimplementasikan oleh universitas dalam sistem pembelajarannya. Pertama, pengaruh dari era disrupsi ini harus berbanding lurus dengan pembelajaran yang akan diimplementasikan di universitas, diantaranya harus ada penyesuaian mata kuliah akuntansi berbasis teknologi dan standar akuntansi. Kedua, pada saat mahasiswa yang berasal dari jurusan akuntansi akan menyelesaikan program sarjananya, terlebih dahulu harus melewati seleksi ujian praktek akuntansi berbasis teknologi komputer. Hal ini diharapkan agar dihasilkannya mahasiswa yang benar-benar berlatang belakang akuntansi, bukan hanya sekedar penyandang gelar ekonomi. Ketiga, sistem menulis atau skripsi yang telah diimplementasikan bertahun-tahun sebagai standar kelulusan mahasiswa seharusnya dibarengi dengan ujian akhir yang menggali kemampuan calon akuntan dalam menganalisa resiko dan laporan berbasis digital. Untuk mendukung semua program tersebut, diharapkan agar universitas merenovasi kurikulum yang di jadikan standar kompetensi dalam pembelajaran ke dalam sistem komputerisasi yang berbasis standar akuntansi keuangan. Semua ini ditujukan agar mahasiswa siap dalam menghadapi tantangan global yang terus berkembang dari hari ke hari akibat faktor dari fenomena disrupsi. Hasil dari kegiatan ini bukan hanya menguntungkan mahasiswa, masyarakat dan perekonomian bangsa, namun juga akan menguntungkan universitas dari segi kelayakan. Hal ini disebabkan oleh jumlah mahasiswa yang berhasil dilayangkan ke berbagai perusahaan. Sehingga melalui penjabaran ini, kami berharap agar sistem yang kami paparkan ini dapat diimplementasikan di universitas yang nantinya akan memberikan pengaruh yang besar bagi bangsa dan negara.Terima kasih J

PERAN UNIVERSITAS DALAM MEMPERSIAPKAN AKUNTAN YANG MEMILIKI JIWA SELF EFFICIACY DALAM MENGHADAPI ERA DISRUPSI PERAN UNIVERSITAS DALAM MEMPERSIAPKAN AKUNTAN YANG MEMILIKI JIWA SELF EFFICIACY DALAM MENGHADAPI ERA DISRUPSI Reviewed by Intan Destia Helmi on June 09, 2018 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.