already published on: https://acehsatu.com/jika-komunis-terlahir-kembali-pantaskah-kita-tetap-duduk-manis/
Baru-baru ini, Indonesia dihebohkan dengan berita dimana Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) diduga memfasilitasi diskusi tentang Partai Komunis Indonesia pada 17 September 2017 kemarin, (Kompas.com). Berita ini didukung oleh kesaksian MayJen (Purn) TNI, Kivlan Zen yang telah berdiskusi langsung dengan salah seorang anak PKI (JawaPos.com). Kehadiran berita ini lalu dibantah oleh ketua bidang advokasi YLBHI, Muhammad Isnur, dimana beliau memperjelas bahwa pada hari tersebut, YLBHI menggelar pagelaran seni dan diskusi terkait dengan darurat demokrasi di Indonesia. Benar atau tidaknya berita ini, jika memang benar bahwa paham komunisme telah berkembang di kalangan masyarakat Indonesia, pantaskah bila generasi muda sebagai tombak estafet perjuangan bangsa hanya duduk manis sebatas mengikuti perkembangan berita yang beredar ?
Baru-baru ini, Indonesia dihebohkan dengan berita dimana Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) diduga memfasilitasi diskusi tentang Partai Komunis Indonesia pada 17 September 2017 kemarin, (Kompas.com). Berita ini didukung oleh kesaksian MayJen (Purn) TNI, Kivlan Zen yang telah berdiskusi langsung dengan salah seorang anak PKI (JawaPos.com). Kehadiran berita ini lalu dibantah oleh ketua bidang advokasi YLBHI, Muhammad Isnur, dimana beliau memperjelas bahwa pada hari tersebut, YLBHI menggelar pagelaran seni dan diskusi terkait dengan darurat demokrasi di Indonesia. Benar atau tidaknya berita ini, jika memang benar bahwa paham komunisme telah berkembang di kalangan masyarakat Indonesia, pantaskah bila generasi muda sebagai tombak estafet perjuangan bangsa hanya duduk manis sebatas mengikuti perkembangan berita yang beredar ?
Jika kita mengulas
kembali sejarah setelah kemerdekaan bangsa, begitu banyak pembantaian brutal
yang dilakukan oleh pihak Partai Komunis Indonesia, yang sebagian besar korban
pembantaian yang dianiaya pada saat itu masih menimbulkan misteri akan
keberadaanya hingga kini, seperti salah seorang tokoh nasional, Otto
Iskandardinata, yang diculik, dieksekusi, dan keberadaan mayatnya masih
menimbulkan misteri hingga kini. Keganasan PKI seperti menyembelih Kyai di
Gontor, penggorokan leher kepada para sahabat Haji Dimyati yang merupakan sesama
aktivis Masyumi, pemotongan telinga dan kemaluan kepada para sahabat-sahabat
sesama aktivis Muhammad Amir, penyeretan menggunakan Jeep Wills sepanjang 3 Km
hingga wafat kepada Kapolres Ismiadi, dll. cukup menjadikan alasan mengapa PKI dianggap
sebagai pengkhianat bangsa dan harus ditumpas habis, seperti yang dilakukan
pada masa Rezim Soeharto. Paham marxisme-leninisme komunisme yang dianut oleh
Partai Komunis Indonesia ini menuntut akan tidak adanya perbedaan pendapat, dan
jika harus menjatuhkan korban demi mempertegak paham tersebut, hal tersebut menjadi
sebuah kewajaran untuk dilakukan. Maka tidak heran bila berjuta-juta penduduk
tewas di Uni Soviet, Kamboja, dan Cina pada masa lalu hanya karena ingin
meluruskan program dan mengukuhkan kekuasaan komunis.
Paham Komunis tidak
mengakui adanya Tuhan dan Pancasila, hal tersebut yang memicu berbagai
pemberontakan di masa orde lama. Dulu, berbagai kalangan aktivis dan kaum
politik tidak menyetujui berbagai kebijakan yang diajukan oleh pihak PKI, hal
tersebutlah yang memicu berbagai aksi brutal oleh kaum PKI. Lebih memilukannya
lagi, disaat para pejuang bangsa berusaha merebut kemerdekaan dari belenggu
penjajah, di saat itu pula PKI membuat pergolakan internal dengan merebut
kekuasaan di Slawi, Serang, dll. PKI pernah mengkhianati bangsa, apa jaminan
mereka tidak mengulanginya ?
Generasi muda saat
ini seperti terlihat acuh tak acuh akan kehadiran PKI. Padahal, jika memang
benar bahwa sendi-sendi PKI telah menguat karena paham dari PKI ini sangat
dengan mudah mempengaruhi kaum ekonomi kebawah yang disebabkan oleh sistem
persamaan dalam hidup manusia, maka hal tersebut akan menjadi ancaman besar
bagi perkembangan bangsa ini. Indonesia adalah negara demokrasi dimana
kebebasan berpendapat adalah hak setiap insan di tanah air. Jika paham PKI
mulai masuk ke dalam pemerintahan Indonesia, bagaimana masyarakat bisa bebas
menyatakan pendapatnya ?
Akibat dari paham
komunis, Ideologi bangsa Indonesia bisa berubah dan sangat berbahaya bagi
kedaulatan negara Indonesia. Dulu, Buya Hamka yang merupakan ketua Majelis
Ulama Indonesia (MUI) pertama difitnah dan dipenjara dengan mudahnya oleh PKI, karena
tokoh PKI sangat dekat dengan pemerintah yang berkuasa saat itu. Bayangkan jika
paham komunis kembali masuk ke dalam pemerintahan Indonesia saat ini, bukan
hanya tokoh-tokoh agama yang dijarah, melainkah paradigma generasi muda bisa
tercemar. Jika kaum yang menganut paham komunis berfikir bahwa penyamaan
pendapat, hak, dan kewajiban adalah kesejahteraan mutlak, maka bukan hanya
paham akan adanya tuhan yang dihilangkan, tetapi juga kemampuan manusia untuk
berkembang dalam berbagai hal juga akan hilang, yang nantinya akan menuntun
bangsa ini kearah kemiskinan yang disebabkan oleh paham yang mengikat
pergerakan bangsa. Kita lihat saja Korea Utara. Negara ini mampu memproduksi
nuklir sendiri, tetapi kekuatan ekonomi negara ini sangat lemah, bahkan
tergolong dalam kondisi negara termiskin di dunia. Sistem komunis yang mengikat
mereka menjadi belenggu akan perkembangan, padahal secara kemampuan, negara ini
mampu menyaingi berbagai negara maju lainnya. Bayangkan jika sistem negara ini
berganti dari yang demokrasi menjadi komunis, bukan hanya paham yang akan
berganti, tetapi kekuatan ekonomi pun akan terkikis. Inilah yang menjadi poin
penting akan paradigma bangsa yang harus dibenahi kembali.
Tembok berlin sudah
roboh, Uni Soviet sudah berantakan, dan Cina sudah beralih paham kepada
kapitalis. Jika Tap MPRS Nomor XXV Tahun 1966 tentang pembubaran Partai Komunis
Indonesia tidak di cabut, maka pergerakan komunis juga tidak akan melesat.
Sudah menjadi keharusan bagi generasi muda untuk memperkuat pertahanan dan
keamanan bangsa dengan bersatu padu dalam menepis paham komunis, sehingga jika
memang benar paham komunis tersebut sudah mulai tumbuh dan sudah memiliki
banyak pengikut, generasi muda bisa mengambil andil dalam mencabut paham
tersebut hingga keakar-akarnya, melalui berbagai aksi berbau demokrasi yang
pada dasarnya memberikan manfaat bagi masyarakat banyak. Bukan aksi yang berbau
perang, melainkan aksi yang berbau ilmu pengetahuan, yaitu melalui
kegiatan-kegiatan positif yang dapat mengubah paradigma masyarakat. Jika bukan kita,
siapa lagi, bukan?
Jika Komunis terlahir kembali, Pantaskah jika Generasi Muda tetap duduk manis ?
Reviewed by Intan Destia Helmi
on
December 23, 2017
Rating:
Reviewed by Intan Destia Helmi
on
December 23, 2017
Rating:

No comments: