ROHINGYA DISIKSA, APAKAH SEMATA-MATA KARENA PERBEDAAN AGAMA ?

note : already published on serambi indonesia newspaper. link : http://aceh.tribunnews.com/2017/10/07/derita-warga-rohingya

Berita mengenai kekerasan yang dialami oleh masyarakat etnis rohingya sudah berlarut-larut sejak tahun 1982 hingga kini. Pada tanggal 12 september 2017 kemarin, Aceh youth forum mengadakan seminar International dengan tajuk “ The 1st International conference on stateless rohingya, Acehnese youth and understanding the crisis in moslem minority of Myanmar” yang diadakan di aula pasca sarjana UIN Ar-Ranirry. Kegiatan ini juga bertujuan untuk mengajak masyarakat muda Aceh yang menjunjung tinggi hak asasi manusia dan perdamaian dunia agar mengambil langkah bersama dengan pemerintah untuk memberikan aksi solidaritas terhadap saudara kita yang ada di Rakhine state, tepatnya dimana masyarakat etnis rohingya bertempat tinggal. sudah 35 tahun etnis Rohingya dibantai oleh negaranya sendiri, mengapa perjanjian damai yang telah diusulkan berpuluh-puluh tahun lamanya tidak membuat mereka bisa hidup damai layaknya masyarakat di berbagai belahan dunia lainnya ?
Sebelum tahun 1945, Myanmar berada dibawah kekuasaan inggris. Setelah merdeka, awalnya etnis rohingya diakui sebagai bagian dari warga negara yang ada di Myanmar. Namun pada tahun 1982, dibawah hukum yang ditetapkan pada saat itu, Myanmar tidak mengakui rohingya sebagai bagian dari 135 suku yang ada di Myanmar karena menganggap bahwa etnis rohingya berasal dari India yang berpindah ke Myanmar pada masa penjajahan inggris. Lebih dari 250.000 etnis rohingya melarikan diri ke Bangladesh pada tahun 1991 akibat pembantaian besar-besaran pada masa itu, karena mereka dipaksa menjadi buruh, mendapatkan penyiksaan, dan mendapatkan kekerasan seksual dari militer Myanmar. Namun dibawah perjanjian pemulangan pada tahun 1992, sekitar 230.000 penduduk Rohingya kembali ke Rakhine state. Awalnya pada tahun 2011, Myanmar mendeklarasikan  bahwa mereka beralih dari masa transisi menuju masa demokrasi, namun pada tahun 2012, masyarakat rohingya dibumihanguskan kembali sehingga lebih dari 100 orang rohingya tewas pada saat itu, dan sekitar 150.000 penduduk dipindahkan dari rumah mereka, dan tenda tempat mereka bertempat tinggal masih ada hingga hari ini. Pada tahun 2016, hiduplah gerakan-gerakan dari rohingya untuk membela hak mereka sebagai manusia yang dikenal dengan gerakan Arakan Rohingya Salvation Army yang kemudian menewaskan 9 tentara Myanmar. Hal tersebut memicu amarah dari militer Myanmar sehingga mereka merespon tindakan tersebut dengan tindakan operasi brutal yang kemudian memaksa sekitar 80.000 masyarakat etnis rohingya untuk melarikan diri ke Bangladesh. Dan oleh karena kejadian itulah yang menyebabkan daerah Rakhine state kini diisolasi dari dunia dari segi bantuan kemanusiaan, pendidikan, kesehatan, pantauan pers, dan militer rohingya terus-terusan menyebarluaskan kekerasan kepada etnis rohingya hingga kini, bahkan pada perbatasan wilayah Rakhine state yang ditempati oleh etnis rohingya saat ini diletakkan ranjau sehingga masyarakat rohingya yang tidak mereka akui sebagai warga negara mereka tidak dapat keluar dari Rakhine state, dan bagi pengungsi etnis rohingya yang telah melarikan diri ke Bangladesh dan beberapa negara lainnya di asia pasifik tidak dapat kembali lagi ke Rakhine state. Layaknya terisolasi dari segala aktivitas dunia, bahkan mereka tidak diberi kesempatan untuk pergi dari daerah yang tidak mengakui mereka, dan juga mereka dieksekusi terus-terusan hingga dari 3 jutaan masyarakat rohingya,  1/3 lah yang masih bertahan hidup hingga kini, dan tidak bisa berbuat apa-apa selain berserah diri. Mereka bukan hanya miskin harta dan hak asasi manusia, tetapi mereka juga miskin akan kesehatan, pendidikan karena mereka tidak dapat bersekolah, dan juga miskin akan mental karena diserang terus-terusan hingga kini. Jika dulu pada era nazi, hitler menggunakan genosida untuk membumihanguskan kaum yahudi, namun rohingya mendapatkan siksaan yang jauh lebih parah dari itu karena mereka bukan hanya mendapatkan tekanan fisik, namun mereka juga mendapatkan tekanan batin. Bisa dipahami jika pada masa perang dunia kedua dulu, kita tidak dapat mengambil langkah langsung untuk menolong berbagai kaum yang disiksa oleh penjajahan, karena hampir semua negara juga dijajah oleh bangsa yang berkekuatan besar. Namun di era canggih yang menjunjung tinggi perdamaian ini, sungguh mengherankan bila kita tidak mampu menolong mereka yang disiksa oleh kekuatan militer yang memiliki ruang lingkup yang sempit itu, yaitu hanya sebatas wilayah Myanmar saja.
Sekitar 88% dari Populasi Myanmar menganut keyakinan budha theravada, yaitu keyakinan budha yang masih murni alirannya. Pada keanggotaan legislatif Myanmar, 25% diantaranya dikuasai oleh rezim militer, sedangkan 75% diantaranya dikuasai oleh kaum sipil, dan aun sang su kyi berasal dari kaum sipil tersebut. Yang mengherankannya, 25% kekuatan militer di legislatif mampu membuat 75% anggota legislatf lainnya takluk kepada mereka. Sudah lebih dari 60 tahun negara ini dikuasai oleh rezim militer, dan kebijakan yang dimiliki oleh negara ini dari mulai 1982 hingga sekarang tidaklah berubah. Meskipun berbagai presiden nantinya menggatikan posisi presiden saat ini, kekuatan militer tetaplah berada di atas awan karena kebijakan yang telah dibuat dari tahun 1982 hingga kini tidaklah berubah. Sehingga jika dunia ingin menunjuk siapa yang harus disalahkan atas kekerasan terhadap kaum etnis rohingya ini, rezim militerlah yang seharusnya disalahkan karena berbagai politik yang mereka lakukan, bukannya keyakinan mereka yang harusnya disalahkan karena dunia ini menjunjung tinggi toleransi, sehingga semua penduduk yang berada di belahan dunia berhak memilih keyakinan sesuai dengan perspektif mereka. Bahkan masyarakat lokal Myanmar sendiri was-was dengan negara mereka sendiri karena kebebasan berekspresi mereka pun di kekang oleh negara. Jika kita berbicara tentang empati, bukan hanya berbagai negara di dunia yang berempati kepada etnis rohingya, namun penduduk lokal dari berbagai keyakinanpun berempati, bahkan ingin sekali menolong agar etnis rohingya diberikan kebebasan layaknya kaum lainnya di dunia. Yang sungguh disayangkan,  rezim militer yang menguasai mereka mampu membuat mereka takluk dan lebih memilih untuk berdiam diri karena takut terlibat dengan urursan militer. Mereka tidak bisa sembarang berbicara di ruang publik, bahkan di warung kopi sekalipun sebagai tempat untuk bersantai. Dan bahkan beberapa diantaranya sudah terpengaruh oleh hasutan-hasutan politik yang diciptakan oleh rezim militer kepada etnis rohingya.

Rezim militer Myanmar memiliki paradigma bahwa jika kamu bukan budha, kamu bukanlah penduduk Myanmar, sehingga mereka menciptakan berbagai hasutan untuk mendiskriminasi kaum muslim di Myanmar. Dari 135 etnis yang diakui di Myanmar, 6 diantaranya merupakan etnis Islam, seperti etnis  cina Islam, india Islam, dan lain-lain. Mereka hidup berdampingan dengan etnis lainnya di Myanmar, tetapi mereka tidak diberi kebebasan untuk memiliki posisi penting di pemerintahan. Bahkan hingga kini, ada terdapat tiga daerah di Myanmar yang tidak mengizinkan kaum muslim untuk menginjakkan kakinya di daerah mereka. Yang menjadi dugaan yang menyebabkan etnis Rohingya terus disiksa yaitu karena rohingya memiliki populasi Islam terbesar di Myanmar. Tetapi tidak semua etnis rohingya menganut agama Islam, beberapa diataranya menganut keyakinan budha, namun mereka juga mendapatkan serangan, dan bahkan mendapatkan hasutas dari militer untuk membenci muslim Rohingya. Rezim militer memiliki pemikiran bahwa kemampuan muslim untuk berpoligami bisa menghasilkan keturunan yang banyak dan nantinya, populasi mereka mengalahkan populasi budha  yang ada di Myanmar, sehingga bisa dikatakan hal tersebut menjadi salah satu pandangan bagi mereka untuk melakukan serangan. Rezim militer menggunakan politik devide et empera untuk memecahbelahkan masyarakat mereka dari segi keyakinan, sehingga tidak mengherankan jika banyak hasutan yang dilemparkan oleh rezim militer kepada masyarakat Myanmar untuk membenci rohingya sehingga tidak ada empati dari mereka untuk menolong masyarakat rohingya, namun banyak diantaranya tidak terpengaruh oleh hasutan tersebut.  Dari 18 pasukan bersenjata yang ada di Myanmar, 9 diantaranya sudah menandatangani perjanjian damai karena didesak terus-menerus oleh organisasi internasional. Namun perjanjian damai tersebut semata-mata hanyalah janji diatas kertas karena pada kenyataannya, pasukan bersenjata tersebut juga bahu-membahu melakukan penyerangan terhadap etnis Rohingya. Jika masyarakat Islam di dunia berfikir bahwa solusi yang dapat ditawarkan yaitu dengan melakukan jihad perang untuk menolong saudara-saudara kita yang ada di Rohingya, hal tersebut bisa memicu permasalahan baru karena rezim militer Myanmar akan mengklaim bahwa mereka diserang oleh teroris/ISIS (karena pandangan dunia yang mengatakan bahwa teroris adalah muslim) dan organisasi dunia akan memberikan subsidi dana bagi mereka untuk membuat perlawanan karena organisasi dunia akan memberikan subsidi dana bagi negara mana saja yang berani membuat perlawanan kepada teroris/ISIS. Seharusnya, jika masyarakat dunia ingin melakukan jihad, bukan jihad dalam bentuk peranglah yang harus dilakukan, melainkan jihad dalam bentuk pengetahuan, melakukan perjanjian damai yang menekan rezim militer untuk menghentikan penyerangan, mengirimkan tenaga-tenaga pendidikan dan kesehatan karena penduduk Rohingya sangat membutuhkan pengetahuan agar mereka bisa hidup berkembang layaknya masyarakat dari belahan dunia, dan membutuhkan penanganan kesehatan akibat penyerangan yang dilakukan terus menerus ini. Rakhine state memiliki kesamaan dengan Aceh. Selain posisi mereka sebagai pintu masuk dari daerah barat dunia, populasi Islam terbanyak di negara, juga kesamaan konflik yang dialami. Daerah Operasi Militer yang diberlakukan di Aceh dahulu akhirnya bisa melahirkan perjanjian damai antara Indonesia dengan GAM. Jika hal tersebut juga bisa terjadi di Rakhine state, tentulah akan menjadi hal yang sangat luar biasa. Semoga melalui artikel ini, pemikiran yang telah terpasang pada generasi muda untuk membantu saudara-saudara kita di Rakhine state bisa memberikan dampak yang besar terhadap perdamaian yang sudah berpuluh-puluh tahun lamanya dinantikan oleh penduduk rohingya.
ROHINGYA DISIKSA, APAKAH SEMATA-MATA KARENA PERBEDAAN AGAMA ? ROHINGYA DISIKSA, APAKAH SEMATA-MATA KARENA PERBEDAAN AGAMA ? Reviewed by Intan Destia Helmi on October 10, 2017 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.