already published on: https://acehsatu.com/peran-wanita-dan-baik-buruknya-sebuah-negeri/
Dulu, wanita layaknya barang yang dapat dipakai saat dibutuhkan dan dibuang bila tidak digunakan. Sejak lahirnya berbagai tokoh wanita dalam sejarah perjuangan kemerdekaan di berbagai negara yang ada di dunia, emansipasi wanita menjadi tombak estafet akan langkah kesuksesan wanita hingga saat ini. Sebut saja Raden Ajeng Kartini, Dewi Sartika, dll. yang merupakan tokoh dalam meningkatkan derajat wanita melalui berbagai pergerakan yang menjadikan peran dari wanita sebagai salah satu kunci kemerdekaan nasional dari penjajah. Disamping peran secara aksi, wanita memiliki peran lain yang memberikan dampak begitu luas bagi perkembangan sebuah negara. Namun, apakah peran tersebut menjadi tolak ukur yang diperhatikan saat ini ?
Dulu, wanita layaknya barang yang dapat dipakai saat dibutuhkan dan dibuang bila tidak digunakan. Sejak lahirnya berbagai tokoh wanita dalam sejarah perjuangan kemerdekaan di berbagai negara yang ada di dunia, emansipasi wanita menjadi tombak estafet akan langkah kesuksesan wanita hingga saat ini. Sebut saja Raden Ajeng Kartini, Dewi Sartika, dll. yang merupakan tokoh dalam meningkatkan derajat wanita melalui berbagai pergerakan yang menjadikan peran dari wanita sebagai salah satu kunci kemerdekaan nasional dari penjajah. Disamping peran secara aksi, wanita memiliki peran lain yang memberikan dampak begitu luas bagi perkembangan sebuah negara. Namun, apakah peran tersebut menjadi tolak ukur yang diperhatikan saat ini ?
Jika ada yang berpendapat
bahwa wanita tidak perlu bersekolah setinggi-tingginya karena pada dasarnya,
tugas wanita adalah menjadi seorang ibu bagi anak-anaknya dan istri bagi suaminya,
maka pendapat seperti itulah yang dapat memperlambat kemajuan bangsa ini. Jika
ada yang berkata bahwa ujung-ujungnya tempat yang akan dituju oleh seorang wanita
adalah dapur, maka negara ini akan dihantui oleh rasa malu karena pada
kenyataanya, wanita juga mengambil andil dalam memperjuangkan kemerdekaan
bangsa ini, sebut saja Tjoet Nyak Dhien, Tjoet Nyak Mutia, Laksamana
Malahayati, dll. Tetapi, bila bangsa ini menyamakan sistem keamanan bagi pria
dan wanita karena faktor dari emansipasi wanita, maka paradigma negara ini
dapat diganti dari yang menjunjung tinggi perbedaan menjadi sistem persamaan
karena pada hakikatnya, wanita membutuhkan perlindungan berkali-kali lipat
dibandingkan dengan perlindungan terhadap pria. Kita sebagai generasi muda
sudah seharusnya merubah paradigma masyarakat terkait dengan peran dari wanita,
karena wanitalah yang menjadi awal dari perjalanan kemajuan bangsa ini.
Penelitian
menunjukkan bahwa 50-60% IQ dari seorang anak diturunkan melalui Ibunya. Dengan
begitu, selain kecerdasan lahiriah, dapat dikatakan pula bahwa aktivitas sang
ibu pada saat mengandung mempengaruhi kecerdasan sang anak. Jika seorang wanita
yang sedang mengandung tidak mendapatkan perlakuan khusus, seperti tidak
mendapatkan pola nutrisi yang baik, tidak dikontrol aktivitas fisiknya, tidak
ada yang mengendalikan emosinya, dsb. maka hal tersebut dapat mempengaruhi
kondisi fisik kandungannya yang nantinya akan sangat mempengaruhi kondisi
mental sang anak. Bila seorang wanita tidak diberikan pendidikan yang baik,
maka didikan terhadap sang anak juga akan berpengaruh pula. Jadi, bila ada yang
mengatakan bahwa bersekolah setinggi-tingginya bukanlah tugas dari seorang
wanita, maka generasi yang cerdas dan bermartabat akan dilahirkan oleh siapa ? inilah
yang menjadikan alasan mengapa pendidikan menjadi salah satu titik pacu yang
harus ditempuh oleh wanita.
Pendidikan bukan
hanya diorientasikan kepada pekerjaan, melainkan pendidikan juga dapat membantu
wanita dalam menjalani keseharian, terutama dalam mendidik sang anak. Dian
sastro pernah berkata: “Entah akan berkarir atau menjadi ibu rumah tangga,
seorang wanita wajib berpendidikan tinggi karena ia akan menjadi ibu. Ibu-ibu
yang cerdas akan menghasilkan anak-anak cerdas.” Sehingga, tidak akan sia-sia
titel yang telah diraih walau sudah sampai tahap doktor sekalipun. Kecerdasan
yang dimaksud bukan hanya kemampuan otak dalam menyerap berbagai ilmu
pengetahuan, melainkan juga kemampuan dalam bersikap, berperilaku, menyikapi
berbagai permasalahan, karakter pemikiran, kebiasaan, dsb. Tokoh motivator dunia,
Oprah Winfrey pernah berkata bahwa “semua perempuan harus punya kecerdasan,
karena dunia terlalu keras jika hanya mengandalkan kecantikan”. Jika wanita
tidak memiliki kecerdasan, apakah negara ini nantinya akan siap dipimpin oleh
insan kurang terdidik yang jiwa
kepemimpinannya kusut layaknya tak pernah tergosok ?
Pada dasarnya,
wanita diciptakan oleh tuhan untuk menghasilkan keturunan dalam melanjutkan
tombak estafet perjuangan bangsa. Jika wanita lebih memilih karir daripada
menunaikan tugas utamanya, maka bisa dikatakan bahwa negara tersebut hanya mampu
menghasilkan ilmu yang mati, karena ilmu tersebut bukannya dihasilkan untuk
dilanjutkan oleh keturunannya, melainkan dihasilkan untuk menambah panduan
dalam buku semata, yang nantinya dikembangkan oleh negara lain. Sebut saja
Jerman yang merupakan negara otomotif terbaik di dunia, yang angka kelahirannya
mencapai 1.51%. Mereka menghasilkan berjuta ilmu pengetahuan, tetapi kebanyakan
wanita yang terdapat di dalam negara tersebut lebih memilih untuk terus
menghasilkan sumber daya daripada menghasilkan keturunan. Maka tak heran bila Jerman
dinobatkan sebagai negara dengan populasi tertua kedua di dunia setelah Jepang.
Jika kita beralih ke Indonesia, justru kondisi yang terjadi malah sebaliknya. Hal
yang lebih mengkhawatirkan bahwa berdasarkan hasil survey dari BKKBN nasional,
angka kelahiran di Indonesia pada tahun 2015 tercatat sebanyak 4,5 juta, hampir
sama dengan jumlah masyarakat singapura. Maka tak heran bila negara ini
menduduki posisi keempat terpadat di dunia untuk populasi penduduknya. Ditambah
lagi dengan hasil survey oleh Badan Pusat Statistik, Pusat Data dan Kebudayaan
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan yang menyatakan bahwa 3,4 juta perempuan
Indonesia masih buta huruf. Inilah yang menjadi perhatian khusus karena dengan
angka kelahiran yang tinggi, harusnya tidak dibarengi dengan angka buta huruf
yang tinggi. Angka buta huruf ini disebabkan oleh kurangnya pendidikan,
sehingga sudah menjadi kewajiban bagi wanita untuk menempuh pendidikan.
Jika wanita
Indonesia mampu mengimbangi antara mencari ilmu dan menghasilkan keturunan yang
terdidik, tentunya negara ini akan memiliki penerus yang dapat mensejahterakan rakyat
dalam jumlah besar di masa depan. Sudah menjadi kewajiban kita sebagai generasi
muda untuk mengajak wanita di seluruh Indonesia dalam hal merubah orientasi
kehidupannya. Mari kita bersama-sama mengajak wanita untuk terus meningkatkan
kapasitas dirinya menjadi seseorang yang cerdas dan cermat serta berpendidikan,
karena ilmu yang kita dapatkan bukan hanya habis oleh masa karena didekasikan
kepada lembaga dan diri sendiri, namun juga kepada keturunan kita yang
merupakan generasi penerus bangsa, terima kasih J
Wanita mempengaruhi baik dan buruknya sebuah negara
Reviewed by Intan Destia Helmi
on
October 10, 2017
Rating:
Reviewed by Intan Destia Helmi
on
October 10, 2017
Rating:

No comments: