Liputan dokumenter (tayang pada 11 Februari 2019 di TVRI Aceh) : https://www.youtube.com/watch?v=Of_TaGsDqiw
The real KKNlyfe be like -- alasan saya mengulas pengalaman seputar kkn menggunakan judul ini karena pengalaman kkn yang saya dapatkan benar-benar kehidupan KKN yang sebenarnya. Doa yang saya panjatkan pada saat mendaftarkan diri sebagai peserta KKN adalah semoga mendapatkan pengalaman KKN yang luar biasa bersama dengan teman-teman sepenanggungan yang luar biasa. Tak sedikitpun terpikir akan mendapatkan tempat yang diluar dari dugaan. Tepat setelah melakukan survey (kebetulan ga bisa join karena urusan kerja), saya begitu terkejut dengan rekaman serta foto-foto yang diambil oleh teman-teman saya terkait dengan lokasi KKN Kami nantinya. Tepat pada malam harinya saya langsung bermohon mengandalkan segala cara agar papa saya mengizinkan untuk mengikuti program KKN international yang diadakan oleh OIA Unsyiah. Alasan-alasan yang saya utarakan diantaranya: tempat kknnya ga ada lampu jalan, ga ada jaringan, ga ada listrik, banyak hewan liar, susah akses ke kota, ga ada WC, dan lain-lainnya. Sayangnya segala jenis rencana dan permohonan itu hanya menjadi angin lalu. Dan dengan lapang dada, saya memulai kegiatan KKN ini bersama dengan teman-teman sepenanggungan.
Terkejut, bukan lagi. Semua yang teman-teman saya ceritakan benar-benar begitu adanya. Sebagai anak-anak millenial, Handphone adalah sebuah kebutuhan. Sayangnya, Hp hanya menjadi pajangan dan sebagai alat bermain game offline saja. Karena kondisi polindes (mini puskesmas di gampong) yang tidak memungkinkan, akhirnya kami semua (pria dan wanita) tinggal bersama di salah satu rumah warga. Keahlian seperti memasak, bersih-bersih, sangatlah dipertaruhkan disini. Saya tidak terbiasa memasak, hanya mengetahui jumlah cita rasa makanan sebanyak hitungan jari. Saya tidak terbiasa dengan lingkungan ternak, sehingga I was just freaking out, shout out loud, etc. when the pet or another animals stepped close to me. I didnt get used with this situation. Terkesan seperti terlalu manja, tetapi bukan itu sebenarnya. Hanya karena terbiasa dengan lingkungan yang dikelilingi dengan teknologi, sehingga tidak terbiasa dengan lingkungan yang sebaliknya. Listrik yang off pada Sabtu dan Minggunya, Air bersih yang bisa off selama berhari-hari karena hujan yang memutus jalur air, WC yang tidak memadai, mobilitas yang masih harus mendapatkan perhatian pemerintah seperti jalan yang belum teraspal, tidak adanya lampu jalan, Jaringan "X" bukannya "E", dan berbagai macam lainnya yang membuat saya belajar begitu banyak hal. Salah satu moment yang begitu berkesan adalah pada saat kami pertama kalinya meninggalkan Desa, setelah bernegosiasi dengan salah seorang pemilik mobil yang akhirnya membawa kami ke desa yang tergolong maju. Layaknya ditahan berhari-hari tanpa makanan enak, begitulah kami yang sangat bahagia, sibuk sana-sini, snapgraman, telponan, dan lain lain. Melihat aspal untuk pertama kalinya seperti umat muslim yang pertama kalinya melihat ka'bah. Begitu bahagia dan "marok" kalau kata orang Aceh, yang berarti sibuk heboh gajelas karena melihat lagi sesuatu yang sudah lama tidak dilihat. Sebagai informasi, desa ini bisa dikatakan luas, namun populasinya hanya dihuni sebanyak 73 KK, sehingga suasana Desa ini pun begitu sepi, kosong dan jarang dari segi letak rumah. Banyak rumah kosong yang hingga saat ini tidak terawat sehingga diharapkan pemerintah dapat mengambil andil terhadap tempat-tempat ini. Terdapat Gajah liar dan babi liar dalm jumlah significant yang hingga saat ini masih meresahkan warga.
Pengalaman berharga yang saya dapatkan dari KKN ini bukan hanya pengalaman hidup, namun juga rasa kekeluargaan yang timbul di antara kami. Layaknya keluarga pada umumnya, kami benar-benar memikul segala jenis keluh kesah, kesedihan dan kebahagiaan secara bersama. Kami saling melindungi dan benar-benar saling memiliki. Tidak ada kata nafsih-nafsihan, itung-itungan, benar-benar bersatu padu menyelesaikan segala urusan. Hal kecil yang kami lakukan yaitu saling jaga-menjaga saat kami ingin mandi. Seperti desa pada umumnya yang memiliki Kamar mandi terbuka tanpa toilet/WC di dalamnya, sehingga jika ada perempuan yang hendak mandi, para pria akan menjaga kami dari depan rumah, dan wanita menjaga dari dalam rumah. Jika ada yang lapar, para wanita dan pria akan bahu membahu memasak untuk orang rumah. Meskipun terkadang kurang nikmat, tetaplah pujian yang keluar dari mulut kami, agar tetap termotivasi untuk memasak. Untuk pertama kalinya, saya membuat kopi itam bubuk di tempat KKN, dan mereka menghargai seakan kopi tersebut begitu nikmat, padahal rasanya pasti biasa-biasa saja (saya tidak begitu mengerti cita rasa kopi karena bukan penikmat kopi). Salah satu moment lucu dari sekian banyak momen lucu yang pernah terjadi seperti gajah liar yang melintas hanya sebatas 2 meter dari tempat saya berpijak pada subuh harinya, dan saya tidak menyadari itu sama sekali. Minggu pagi buta dengan kondisi mati lampu itu, saya menuju ke kamar mandi untuk buang air kecil dan mengambil air wudhu. Jelas-jelas suara gajah itu begitu besar, Namun tak terlintas di benak bahwa itu adalah gajah. Teman-teman dari dalam rumah hanya menginformasikan bahwa suara tersebut berasal dari lembu, dan sayapun tidak berfikir panjang. Dan pada saat hari mulai menerang, barulah kesadaran itu muncul, dan syukurlah Allah mematikan lampu pada subuh itu, sehingga saya pun selamat dari incaran. Dan masih banyak hal-hal manis lainnya yang sulit untuk dilupakan. Bahkan pada akhirnya, mereka memutuskan untuk extend 2 hari karena ingin menikmati masa-masa sebelum akhirnya meninggalkan Desa Krueng Ayon ini.
Dan inilah cuplikan singkat masa KKN saya di Desa Krueng Ayon, kecamatan sampoiniet, Kabupaten Aceh Jaya. Banyak hal positif dan negatif yang terjadi, dan semoga para pembaca mampu mengambil sisi positifnya yaa. Kita tidak tahu kapan hidup ini akan berganti sistem, tidak tahu sampai kapan era teknologi akan membantu kita, setidaknya kita harus selalu siap untuk menghadapinya.
Diikuti terus update-an blog ini yaaa :)
KKNlyfe Be Like - Moment KKN yang benar-benar KKN
Reviewed by Intan Destia Helmi
on
April 03, 2019
Rating:
No comments: