NB : Already published in Serambi Indonesia Newspaper -- for more info: http://aceh.tribunnews.com/2018/07/29/masa-belajar-yang-menyenangkan-di-lithuania
Oleh
: Intan Destia Helmi – International Accounting Program Unsyiah – 2015
Menjadi mahasiswa
internasional tentu saja menjadi cita-cita sebagian besar mahasiswa dimanapun
mereka berada. Berbagai cara dilakukan seperti mendaftar di berbagai program
pertukaran pelajar agar bisa menikmati suasana belajar di dunia internasional.
Tidak sedikit dari mahasiswa yang berjuang mati-matian agar bisa mendapatkan
beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya di luar negeri. Hal ini diminati
karena nilai yang nantinya diperoleh seperti pengalaman, prestasi, bahkan
kebiasaan yang terbentuk akan menjadi ujung tombak meraih kesuksesan di masa
depan. Untuk mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan dalam memperoleh
sarjana, program pertukaran pelajar internasional menjadi celah yang sangat
dicari agar bisa menjadi bagian dari mahasiswa Internasional. Maka tidak heran
bila banyak dari mahasiswa yang bisa menempuh pendidikan keluar negeri, bahkan
sebelum program pendidikan sarjananya berakhir.
Pada akhir bulan Mei
lalu, alhamdulillah saya menerima email bahwa saya diterima untuk mengikuti
program pertukaran pelajar di Lithuania, Eropa Timur yang didanai oleh Education Exchange and Support Foundation.
Pada saat penyeleksian, begitu banyak persyaratan yang diminta seperti surat
rekomendasi dari dosen, surat motivasi, menjawab berbagai pertanyaan yang
disyaratkan, dan mempersiapkan berbagai kelengkapan berkas lainnya seperti
passport, surat aktif, sertivikat penghargaan, dll. Perjuangan tersebutlah yang
akhirnya menghantarkan saya untuk bisa menikmati pendidikan singkat selama di
eropa di tahun 2018 ini.
Pada saat saya sampai
di Lithuania, berbagai kebutuhan telah saya siapkan mulai dari makanan ringan
dan berat, logistik, kebutuhan belajar, stamina dan berbagai kelengkapan
nutrisi untuk menjaga daya tahan tubuh selama disini. Berbagai kenyataan yang
saya terima selama disini seperti waktu sholat yang sangat berdekatan di malam
hari ( Maghrib 21.48, Isya 00.02, Shubuh 02.47, Dzuhur 13.34, Ashar 17.54)
membuat saya harus siap dalam mengatur waktu sebijak mungkin. Saya memulai
belajar di pagi hari pada pukul 09.00, dan perjalanan dari asrama menuju kampus
memakan waktu sekitar 25 menit. Oleh karenanya, saya harus bangun 2 jam lebih
cepat di pagi hari untuk mempersiapkan segala kebutuhan seperti sarapan, makan
siang, dan kebutuhan lainnya. Setelah beberapa hari saya menikmati kehidupan
saya di Eropa, saya menyadari bahwa kesiapan dan kesigapan adalah segalanya,
sehingga kebiasaan hidup di eropa mendidik saya menjadi seseorang yang lebih
bijaksana, dewasa, serta cerdas dalam menyikapi segala situasi. Meskipun saya
berada di lingkungan yang hampir tidak ada penganut muslim, tetapi masyarakat
eropa cukup toleransi dalam menghargai setiap keyakinan yang ada di dunia ini,
sehingga saya tidak memiliki masalah dalam menunaikan kewajiban saya sebagai
seorang muslim seperti menunaikan ibadah shalat, dan memilih berbagai makanan
yang bisa dan tidak bisa saya konsumsi. Bahkan, mereka terlebih dahulu
memberikan informasi terkait dengan makanan yang mereka sajikan tanpa saya
bertanya terlebih dahulu. Hal ini membuat saya mampu dalam beradaptasi lebih
cepat dari dugaan. Selain itu, masyarakat eropa sangat menghargai seorang
mahasiswa, terutama mahasiswa yang berasal dari luar negeranya. Sehingga saya
merasa sangat tersanjung akan setiap pelayanan yang mereka miliki.
Berbeda dengan Benua
Amerika, Benua Eropa diisi oleh berbagai negara yang memiliki perbedaan bahasa
antara satu negara dengan negara lainnya, seperti Indonesia yang memiliki
perbedaan bahasa antara satu daerah dengan daerah lainnya. Awalnya, saya
mengira bahwa saya akan kesulitan untuk berkomunikasi dengan masyarakat pribumi
di negara ini karena perbedaan bahasa tersebut. Namun nyatanya, sebagian
masyarakat dapat berkomunikasi dalam bahasa inggris dengan cukup baik sehingga
saya tetap mampu mengatasi berbagai kesulitan yang saya alami. Oleh karenanya,
dalam waktu yang singkat saya dapat menikmati hidup sebagai mahasiswa di negara
ini, walau tetap harus meningkatkan kualitas berbahasa agar dapat lebih mudah
untuk berkomunikasi serta menunjukkan rasa sopan sebagai seorang muslim.
Terkait dengan nilai
mata uang, Lithuania menggunakan mata uang euro sehingga nilai tukar terhadap
rupiahnya bisa dikatakan cukup berbanding terbalik. Untuk saat ini, 1 euro
sekitar Rp. 16.695,-. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi saya sebagai
mahasiswa Indonesia untuk mengatur segala pengeluaran yang saya lakukan agar
kondisi keuanganpun tetap stabil. Tetapi hal baiknya adalah, segala jenis bahan
makanan disajikan dalam bentuk fresh, sehat, serta asli, sehingga saya tidak
perlu khawatir dalam memastikan kualitas produk yang akan saya beli. Untuk
segala jenis produk bermerek internasional, sebagian produk yang dipasarkan di
negara ini memiliki harga yang lebih murah dari harga yang diperjualbelikan di
Indonesia, sehingga akan lebih mudah bagi saya untuk membeli produk yang saya
inginkan. Dalam membeli setiap produk, setiap toko memberlakukan biaya untuk
plastik yang disajikan, sehingga setiap pelanggan harus mempersiapkan tas
bawaannya dari rumah dalam membeli sesuatu. Bisa dikatakan bahwa langkah yang
diberlakukan eropa dalam mengurangi penggunaan plastik ini sangatlah baik, agar
penggunaan plastik pun akan berkurang, dan membawa dampak yang bagus untuk
lingkungan pula.
Untuk mahasiswa
Internasional, terutama yang sedang menempuh pendidikannya di kota yang sedang
saya tempati ini, pihak universitas menyediakan pelayanan yang sangat baik
untuk mahasiswanya, bukan hanya segala administrasi di universitas, tetapi juga
berbagai kelengkapan yang disediakan di asramanya. Penataan kamar, laundry,
ruang belajar, ruang bermain, dan toilet serta perlengkapan yang cukup memadai
membuat saya nyaman dalam menikmati waktu di asrama. Biaya asrama yang
dibebankan kepada mahasiswa bervariasi tergantung kebutuhan, dimulai dari 3-5
euro perharinya. Sehingga bisa dikatakan bahwa universitas memberikan fasilitas
yang cukup lengkap dan efisien bagi mahasiswa yang ingin menempuh pendidikannya
di negara ini.
Saat ini, saya sedang
menempuh pendidikan di Vytautas Magnus University (dalam bahasa Lithuania
“Vytautas Dziziojo Universitetas” ). Universitas ini merupakan salah satu dari
universitas tertua di Lithuania, dimana nama dari universitas ini sendiri
diambil dari nama seorang Grand Duke dari kerajaan terdahulu, yaitu Vytautas
the Great, yang juga telah menyumbangkan peradaban yang luar biasa untuk
peradaban Lithuania sepanjang sejarah, dan pernah menjadikan Lithuania sebagai
negara terkuat pada abad terdahulu, bersamaan dengan Belarusia dan Rusia. Pada
program pertukaran ini, saya juga mempelajari Bahasa, sejarah dan budaya dari
Lithuania sendiri, sehingga banyak manfaat yang saya dapatkan dari program ini.
Melalui program ini pula saya baru menyadari bahwa bahasa yang dipakai di
Lithuania adalah bagian dari bahasa indo-european, dan juga merupakan salah
satu bahasa tertua di dunia, dan memiliki hubungan yang sangat erat dengan
bahasa sansekerta yang merupakan bahasa yang digunakan oleh nusantara pada abad
terdahulu. Ini menjadi celah tersendiri bagi saya untuk mempelajari sejarah dan
budaya Indonesia untuk jauh lebih dalam lagi karena tentunya, akan ada ikatan
yang belum saya ketahui terkait dengan sejarah nenek moyang bangsa Indonesia.
Terakhir, saya ingin
mengajak para mahasiswa untuk berbodong-bodong dalam mengikuti program
pendidikan ke luar negeri, bukan hanya program pertukaran pelajar, melainkan
juga program pendidikan sarjana, master, dan bahkan doktor. Untuk saat ini,
saya sedang menduduki semester tujuh di International Accounting Program
Unsyiah. Setelah saya menyelesaikan program sarjana, saya memiliki tekat yang
begitu besar agar bisa mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan program master di
eropa. Saya berharap, para mahasiswa juga memiliki keinginan yang besar seperti
saya agar dapat menyumbangan pembangunan yang luar biasa untuk kelangsungan
bangsa Indonesia dari masa ke masa, terima kasih 😊
Narahubung
: Intandestiahelmi@gmail.com
Menikmati masa belajar di Kaunas, Eropa timur – kata siapa ribet?
Reviewed by Intan Destia Helmi
on
July 29, 2018
Rating:
No comments: