Industrial Revolution 4.0 – Ayo, kita buka pola fikir masyarakat kita!





Oleh: Intan Destia Helmi

Note: Published on Acehsatu.com. Link: https://acehsatu.com/merubah-pola-pikir-kita/

Berbagai kasus hangat menyelimuti bumi kita beberapa pekan ini, seperti pertentangan diantara masyarakat terkait bedanya pilihan dalam pemilu 17 April 2019 lalu, kasus penggrebekan massal yang terjadi di mesjid saat tausyiah, dsb. Hal-hal tersebut menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat Indonesia. Khazanah budaya yang kental menaungi bumi Aceh ini sendiri seakan menjadikan budaya sebagai pedoman. Sebagai daerah bernaungan islam dan dihuni oleh masyarakat modern penikmat globalisasi, harus kita tanamkan dalam benak bahwa budaya adalah penjaga, bukanlah pedoman. Agama-lah yang menjadi pedoman, dan tentunya bersumber dari Alqur’an dan hadist, serta pendapat para ulama, bukan perpaduan pendapat yang dikombinasikan dengan budaya.
Berbicara tentang pesta demokrasi 2019 kemarin, kita bisa melihat betapa memprihatinkannya masyarakat kita menjadi penonton tak di bayar yang ikut berkampanye mendukung aktor pemain, dan kemudian menghancurkan silaturrahmi di antara kita. Para pendukung pasangan calon terkesan menjadi orang buta yang mengagung-agungkan kehebatan dan kelebihan pasangan calon pilihannya, dan abis-abisan mencela dan menjatuhkan segala kekurangan yang dimiliki pasangan calon lawan. Namun disaat kekurangan serta kejelekan milik pasangan calon dukungannya terumbar, mereka layaknya seperti orang yang tak tahu apa-apa. Belum lagi pertikaian internal mengarah ke cemoohan diantara masyarakat kita karena perbedaan pilihan, serta masyarakat kita yang mudah terbuai dan percaya dengan informasi yang beredar di kalangan mereka, seperti jejaring sosial whatsapp, instagram, line, dll., tanpa mencari tahu langsung kebenarannya melalui sumber resmi. Dan lebih disayangkan lagi, mereka dengan mudahnya menyebarkan ke media lain, tanpa tahu dengan betul kebenarannya dari sumber resmi, apakah itu benar atau salah. Inikah kebodohan yang sudah bernaungan dengan kebiasaan masyarakat kita? Hanya mengandalkan kepentingan pribadi tanpa mempertimbangkan nasib masyarakat dan bangsa untuk kedepannya? Wahai generasi bangsa, dimohon agar tidak dibutakan oleh kebenaran. Bijaklah dalam bersikap dan menganggapi, dan dewasalah dalam berdemokrasi. Berpuluh-puluh tahun kita bisa dipersatukan dalam perbedaan dibawah naungan NKRI, mengapa perbedaan pilihan dalam pesta demokrasi memisahkan keharmonisan yang sudah terjalin puluhan tahun lamanya? Yang lalu biarlah berlalu, dan apa yang bisa kita lakukan sekarang adalah memperbaiki apa yang masih bisa kita perbaiki saat ini untuk masa yang akan datang. Dan pesan kepada para penguasa, jangan jadikan agama sebagai alat politik. Agama adalah alat untuk menjinakkan politik, bukan pengganas politik. Agama bukanlah alat negara, melainkan keyakinan pribadi. Jika agama dijadikan alat negara, agamalah yang akan hancur, dan jika sebaliknya, negaralah yang akan hancur. Contoh besarnya adalah seperti yang terjadi di eropa saat era pertengahan, dimana “the dark age” menyelimuti bumi biru. Ilmu pengetahuan tidak bisa berkembang, rakyat dibodohi dengan permainan para pemilik kekuasaan, dsb. Jangan biarkan hal tersebut terjadi lagi di era ini, dan jangan pecah-belahkan bangsa ini.
Berbicara tentang kasus penggerebekan yang terjadi pada 13 Juni 2019, ini merupakan hal yang sungguh disayangkan, dimana masyarakat sudah lupa akan tata krama keagamaan disaat mereka menyuarakan aspirasinya. Belum lagi ada okmum yang memanfaatkan moment ini untuk menghasut dan menjelek-jelekan citra masyarakat Aceh ke dunia luar. Demonstrasi yang dilakukan di mesjid ini merupakan hal yang sungguh disayangkan, dimana masyarakat memukul saudaranya sendiri dengan anarkisnya di dalam rumah Allah. Wahai masyarakat yang berbahagia, ada tata kramanya saat kamu ingin beraspirasi. Jika kamu menganggap apa yang disampaikan tersebut adalah sesat, kamu bisa melaporkan ke pihak berwajib seperti aparat dll., untuk menyelesaikan permasalahan ini. Jika ingin melakukan aksi anarkis untuk memberikan efek jera terhadap sesuatu yang memang sudah dilarang, hal tersebut bisa dilakukan di luar mesjid, setidaknya jangan nodai kesucian rumah Allah dengan aksi kekerasan, karena Islam membenci kekerasan. Mari kita jaga kesucian agama kita dengan menjaga perbuatan kita. Dan ini bisa menjadi pertimbangan luar biasa bagi masyarakat kedepannya, agar memastikan segala izin terlebih dahulu sebelum melaksanakan acara dalam bentuk apapun. Izin adalah prioritas dalam segala acara. Yang terjadi di mesjid Al-Fitrah pada 13 Juni kemarin bisa dikatakan sebagai amarah rakyat karena mendatangkan sesuatu yang tak berizin dari pihak berwajib. Panitia jelas bersalah, karena meskipun yang mereka lakukan adalah bentuk kebenaran menurut paham mereka, tetapi bila tidak mendapatkan izin dari oknum berwajib, maka sepenting apapun kegiatannya, tetap tidak boleh dilaksanakan, mengingat Indonesia adalah negara yang menjunjung tinggi hukum, sebagaimana tercantum dalam UUD 1945 pasal 1 ayat 3.
Wahai masyarakat tercinta, ada yang harus kita klarifikasi atas kejadian kemarin. Seperti yang kita ketahui bahwa Aceh, khususnya Banda Aceh merupakan kota pendatang, dimana banyak masyarakat pendatang dari berbagai daerah yang sudah menetap di bumi Aceh ini. Itu artinya, berbagai pandangan pun sudah beredar di Aceh, mengingat era teknologi mempermudah kita untuk mengakses segala jenis informasi, termasuk pendapat dari berbagai ulama. Para jemaah yang pada malam tersebut berdatangan ke mesjid, bisa jadi karena mereka mengidolakan tausyiah yang mereka ikuti melalui jejaring sosial, bisa jadi mereka adalah masyarakat yang bertentangan, dan berniat menghadiri langsung agar bisa mempertanyakan segala jenis kejanggalan yang mereka dapatkan, serta masih banyak kemungkinan-kemungkinan lain yang terjadi. Mereka yang datang dengan maksud baik, kemudian dibuat ketakutan hingga disoraki (bagi kaum wanita), dan dipukuli (bagi kaum pria), apakah kita pernah mempertimbangkan bagaimana dengan kesehatan mental mereka setelah diperlakukan demikian?
Memang, jika syubhat dan kemunafikan sudah ada didalam suatu mesjid, merobohkannya saja sudah ada dalilnya (hadist masjid dhirar, yaitu perintah rasulullah untuk merobohkan suatu mesjid karena mesjid tersebut mengandung kemunafikan dan perpecahan dalam umat islam). Tetapi yang harus kita gali disini, apakah sudah sebegitu yakinnya bahwa tausyiah yang disampaikan melenceng dari Alqur’an, hadist, dan Ijma’ para ulama? Salah kita bertindak, fitnah dan kezalimanlah yang melanda. Keras aksi kita, nyawa orang tak berdosa yang akan melayang. Itulah mengapa, prosedur adalah pion utama dalam setiap kegiatan, apapun itu. Bagi siapapun nantinya yang berniat untuk melakukan kegiatan dalam bentuk kajian, tausyiah, dan semacamnya, dimohon agar mempelajari terlebih dahulu khazanah keislaman yang ada di Aceh. Aceh memiliki khazanah keislaman yang mengikuti mazhab syafii, ahlussunnah wal jamaah. Jika ingin melakukan kajian keislaman, akan lebih baik bila berdiskusi dengan ulama yang memang paham akan tatanan, budaya, hukum agama di Aceh, agar tidak terjadi lagi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti yang terjadi pada 13 Juni kemarin. Dulu, pada saat nabi melakukan dakwah, nabi pelajari terlebih dahulu budaya dan kebiasaan masyarakat daerah tujuan, agar segala jenis dakwah yang disampaikan tidak menimbulkan propaganda yang tidak diinginkan. Oleh karenanya, dimohon agar masyarakat, dimanapun anda berada, tidak menyalahpahami maksud orang Aceh yang menolak aksi dakwah kemarin, dan bagi panitia penyelenggara, silahkan evaluasi kesalahan kalian dalam melakukan kegiatan ini, serta bagi masyarakat Aceh, benahilah segala jenis tindakan yang sedang dan akan kita lakukan. Aceh cinta damai, dan Islam menolak kekerasan, Ayo bersama sama kita buka pola fikir kita, terima kasih :)
Industrial Revolution 4.0 – Ayo, kita buka pola fikir masyarakat kita! Industrial  Revolution 4.0 – Ayo, kita buka pola fikir masyarakat kita! Reviewed by Intan Destia Helmi on June 25, 2019 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.